Cerita Hot - Oknum Memperkosa Pacarku

Sangat proporsional dengan tubuh dan wajah Diva. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya.
Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam.
Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Diva senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Diva di rumahnya.
Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Diva, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum.
Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Diva mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya.
Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?
Sepanjang perjalanan pulang Diva berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.
Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Diva, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan.
Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami.
Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.
Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Diva yang duduk terdiam.
“Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor”, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.
Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami.
Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Diva dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Diva. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.
Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan.
Polantas tadi berkata, “Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada.
Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.
” Sersan tadi menimpali, “Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!” Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Diva yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.
Mereka lalu membuka sel Diva dan masuk ke dalam. “Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!” Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Diva sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Diva ke atas.
Dalam sekejap seluruh pakaian Diva berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Diva yang terus dipegangi oleh Sersan.
“Wow, lihat dadanya.” Diva terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Diva, melemparkan tubuh Diva hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Diva. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Diva ke rangka di atas kepala Diva.
Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Diva. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Diva, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Diva mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Diva, sedangkan Diva hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.
Saya berdiri di dalam sel di seberang Diva tak berdaya untuk menolong Diva yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Diva.
Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Diva menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.
“Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.” kata Polantas.
“Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!”
“Dia pasti sempit sekali”, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Diva.
Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Diva menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.
“Betul kan, masih sempit sekali.”
Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Diva. Kemudian mereka membuka kaki Diva lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Diva.
Diva mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Diva.
Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Diva, mengelus-elus wajah Diva dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Diva menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.
“Ayo dong manis, buka mulut kamu”, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Diva.
“Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?” Diva tak bergeming. “Buka!” bentak Sersan.
“Buka mulut kamu, brengsek!” Perlahan mulut Diva terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Diva.
Posting Komentar